Senin, 06 Januari 2020

RUET MUMETNYA MUTASI PNS

Sebenarnya dalam dunia perPNSan, bukan urusan mutasi aja yang bikin ribet. Tapi..... hampir semua urusan, mulai dari naik pangkat, berkala, sampai ke tetek bengek lainnya...
Padahal zaman udah canggih yah, tapi sistem birokrasinya masih ketinggalan zaman. Di gamblang serba online tapi yang ada semua masih serba manual... ONLINEnya dimana???????
Bingung kan?? Padahal kalo online ga perlu campur tangan manusia, cukup robot yg mengerjakannya.. tapi ini masih di bayang bayangi tangan manusia yang "abu-abu". 
"Yah... abu abu.. yang mudah di bikin susah, yang susah di bikin mudah.  Sudah bukan rahasia lagi kalau sistem yang di kenal katanya sih jujur dan adil. Tapi masih ada juga oknum hitam yang berhasil menembusnya.. yah, balik lagi kalo bisa mengikuti kemauan sang oknum hitam ini, maka semua jadi lancar... Selancar air terjun di danau.. tapi kalau kita pengen pakai jalan yang lurus, yah silahkan tunggu tu urusan ga selesai selesai. Selalu ada aja yang bikin macet, seperti wc mampet yang entah kapan itu ngalirnya..
Lucu yah... ga lucu sih.. tapi itu seluk beluk bikrokrasi perPNSan.. ribet bin mumet bin repot....

PNS TITIPAN

PNS TITIPAN
 
Ku rasa dalam dunia perPNSan.. atau skrg ASN.. sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pns titipan.. PNS titipan artinya PNS tersebut melakukan mutasi kerja ketempat lain tapi hanya sementara waktu. Bisa 2 tahun atau lebih. Atau bisa di perpanjang lagi.  Tergantung si PNS tersebut.
Pengurusannya pun hampir sama dengan mutasi defenitif. Cuma bedanya, kalau PNS tenaga titipan hanya perlu sk pelepasan dari instansi asal dan surat lolos butuh atau surat keterangan dari instansi penerima. Kedua surat tersebut nantinya akan di antar ke bkd instansi asal untuk membuat sk titipan dari walikota atau bupati. Setelah itu sk titipan dari bupati atau walikota asal di bawa ke bkd penerima untuk di buatkan juga sk titipan dari walikota atau bupati instansi penerima.
Hanya itu saja. Tapi kalau mutasi defenitif, berkas masih harus naik lagi ke bkd pemprov, lalu ke bkn, dan setelah itu baru keluar sk mutasi defenitifnya. 
Kurang lebih seperti itu, kalau di tulisan memang terlihat mudah tapi "" Permainan birokrasi" yang terkadang selalu mempersulit keadaan.. IBarat buah simalakama, di turuti mati emak ga di turuti mati bapak..
Yah.. kalau tidak di turuti kita yang akan di persulit, seolah semua susah.
Tapi kalau turuti kadang bertentangan dengan hati.. 
Itulah sekelumit perjuanganku menjadi seorang PNS tenaga titipan.. 

Minggu, 05 Januari 2020

Cerita ku yang seorang PNS

Ketika semua orang berbondong bondong, ingin ikut pns. Aku malah berfikiran pengen resign. Bukannya tanpa sebab. Dari awal masuk pns hingga skrg hati ku memang tidak bisa menerimanya. Ada banyak hal yang tidak bisa aku terima di sini. Tapi keadaan yang memaksa aku harus bertahan dalam belenggu birokrasi yang menurutku carut marut. 
Pertama masuk pns hatiku senang bukan kepalang, karena fikirku pasti orang tua ku senang dan bahagia. Di tambah lagi pasti mereka bangga karena putrinya seorang pns. Namun tahun tahun demi aku bekerja sebagai pns, hatiku merasakan ada yang salah di sini. 
Yang akhirnya membuat ku berfikiran untuk resign. Walaupun sampai sekarang aku belum berani melakukannya.  Hal pertama yg membuat fikiran itu muncul adalah birokrasi yang carut marut, kurasa tak perlu di jelaskan. Karena semuanya sudah menjadi rahasia publik. Kedua karena aku tak bisa menjilat, makanya aku tak pernah bisa dekat dengan atasan. Sehingga membuat apa yang aku lakukan selalu salah di mata atasan. Walaupun semua teman temanku bilang, menjilat sedikit tak apalah yg penting kita aman. Namun aku tak bisa mengikuti langkah mereka. Hati ku selalu melawan. Yang ketiga karena gadis kecilku. Bertahun tahun aku bekerja pergi subuh pulang sore, nyaris bertemu dengannya hanya saat malam tiba. Membuat aku tak tenang, terkadang bathinku menangis meski bibirku selalu tersenyum. Mengingat si buah hati yang seharusnya selalu berada di dekat ibunya disaat masa masa emasnya. Ini hanya di temani sang pengasuh. Sudah banyak masa kecilnya yang terlewat. Namun ketika fikiran untuk resign itu muncul, ada hal yang membuat ku ragu. 
Selalu terbesit di fikiranku, kalau aku resign. Bagaimana dengan biaya hidup kami, bagaimana dengan hutang di bank yg harus di bayar. Karena sk pnsku tlah tergadai. Dan bagaiman pula untuk pengobatan putri ku. Sementara suamiku hanya seorang TKS. Atau lebih sering orang bilang tenaga honorer. Ingin buka usaha  tapi apalah daya tak punya modal. Bukan tak percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengaturnya. Tapi ........  kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan.. 
Semoga Allah segera membuka jalan terbaik untuk aku dan keluarga ku...